Taruhan Smith: Orang Ateis akan Selalu Lebih Untung


Taruhan ini diajukan oleh George H. Smith, pengarang buku  “Atheism: The Case Against God”.  Tulisan ini terangkum dalam naskah pidato yang disampaikannya pada 1979 di depan Society of Separationists.
Anda mungkin pernah mendengar taruhan Pascal (Pascal’s wager). Blaise Pascal adalah seorang matematikawan, filsuf dan teolog asal Perancis. Pascal pernah mengeluarkan pernyataan yang terkenal sebagai berikut:
“Akal tidak dapat membatalkan atau membuktikan eksistensi Tuhan. Anggap jika ateis benar, maka kita (orang Kristen) akan mati, tak ada yang terjadi, kita pun tidak akan rugi. Tapi jika Kristen (orang beragama lain) benar, orang yang tak percaya akan masuk neraka untuk selamanya. Jadi dilihat dari sini, memilih beragama akan lebih menguntungkan.”
Masalah pertama dari taruhan Pascal ini ada pada kepengecutan intelektual. Alih-alih mencari kebenaran, karena diliputi takut kemudian memilih bertindak aman untuk begitu saja percaya. Padahal percaya bukan sesuatu yang dapat diatur begitu saja. Orang yang tidak percaya peri tidak akan jadi percaya meskipun diancam. Pun jika percaya, itu hanya dimulut, tidak tulus, hanya sekedar mencari aman.
Itu sebab, saya menawarkan alternatif pengganti untuk taruhan Pascal. Taruhan ini saya sebut taruhan Smith (Smith’s wager). Berikut lengkapnya:
1.       Eksistensi Tuhan mesti bisa dibuktikan oleh akal.
2.      Dengan menggunakan cara berlogika yang konsisten, kita akan sampai pada simpulan bahwa kepercayaan atas Tuhan itu sama sekali tak berdasar dan harus ditolak.
Sekarang timbul pertanyaan, bagaimana jika akal ternyata salah? Akal memang kadang salah. Tak ada manusia yang sempurna. Bagaimana jika ternyata Tuhan (Kristen) ada? Bukankah Dia akan memasukkan orang tak percaya dan orang beragama lain ke neraka?
Disinilah taruhan saya akan menjelaskannya. Anggap saja Anda seorang ateis. Kemungkinan apa yang akan menimpa Anda?
Kemungkinan pertama, ternyata Tuhan tidak eksis. Dalam kasus ini maka kematian akan menjadi akhir semuanya. Dengan menjadi ateis, Anda telah menjalani hidup dengan baik dan dengan pilihan yang benar.
Kemungkinan kedua, Tuhan ada, tapi Dia adalah  Tuhan yang tidak peduli dengan urusan manusia. Dia adalah sejenis Tuhannya kaum Deis.
Tuhan tipe ini mungkin dulu menciptakan alam semesta, namun kemudian dibiarkanNya bekerja sendiri melalui hukum alam. Dalam kasus ini, jika Anda meninggal maka selesailah semuanya, tak ada yang perlu dikhawatirkan. Toh Dia tak peduli dengan urusan manusia.
Kemungkinan ketiga, anggap ternyata Tuhan eksis dan Dia peduli dengan urusan manusia, tapi Tuhan ini adalah Tuhan yang benar-benar adil.
Jika Dia adalah Tuhan yang adil, dia tidak akan menghukum manusia atas kesalahan jujurnya (kesalahan setelah mencari) apalagi jika orang ini tidak pernah berbuat jahat selama hidupnya.
Tuhan ‘jenis’ ini telah menciptakan manusia dengan dibekali akal untuk memahami dunia ini. Dia justru akan bangga pada manusia yang mampu menggunakan akalnya sebaik-baiknya. Meski manusia berbuat salah Dia akan tetap bangga, sebangga seorang ayah pada anaknya yang telah berusaha sebaik-baiknya, meski anak ini kadang juga berbuat salah.
Itu sebab, jika ternyata Tuhan yang adil ini eksis, kita seharusnya tidak perlu merasa takut. Tuhan seperti ini tidak akan menghukum kita untuk sebuah kesalahan jujur.
Berikutnya kemungkinan terakhir. Anggap ternyata Tuhan itu ada, dan Dia bukanlah Tuhan yang adil. Tuhan yang mudah mengirim manusia ke neraka untuk kesalahan-kesalahan jujur dan sepele.
Di hadapan Tuhan macam ini, orang-orang beragama (Islam, Kristen) merasa aman dalam keyakinan mereka. Meskipun pada kenyataannya keamanan itu sifatnya ekslusif, hanya mencakup pemeluk agama sejenis. Dan kita tidak pernah tahu Tuhan versi Islam, Kristen, atau Yahudi yang benar.
Tapi mari kita telaah lebih lanjut. Ketidakadilan dicirikan dengan perilaku yang tidak bisa ditebak. Jika ternyata yang eksis itu Tuhan yang tidak adil, yang mudah mengirim manusia ke neraka, lantas apa yang membuat orang beragama merasa aman? Tuhan seperti ini bisa melakukan apa saja sesukanya tanpa perlu mengindahkan prinsip-prinsip keadilan.
Jika Tuhan ini begitu tega memasukkan manusia yang tak percaya atau beda agama ke neraka, Anda tidak dapat mempercayaiNya akan selalu memegang kata-kataNya. Tuhan semacam ini adalah Tuhan yang sadistik, menikmati ritual penyiksaaan manusia.
Jadi siapapun tidak akan pernah aman dibawah perintah Tuhan yang tidak adil ini. Orang seagama, orang lain agama, orang tak percaya, semua sama-sama dalam posisi yang tidak menguntungkan. Tidak ada yang punya posisi lebih baik.
Itu sebab, jika akan membuat taruhan, Anda juga harus menuruti apa yang dikatakan akal Anda bahwa ateisme adalah benar, karena siapapun tidak akan berada dalam posisi aman dibawah Tuhan yang tidak adil ini.
Maka berdasarkan ini semua saya juga akan mengajukan taruhan bahwa Anda seharusnya menempatkan taruhan pada akal dan menerima konsekuensi logis darinya, yaitu ateisme.
Jika Anda bertaruh pada ateisme, jika ternyata Tuhan tidak ada maka Anda benar; jika ternyata Tuhan ada tapi Dia tidak tertarik dengan urusan manusia maka Anda tidak akan kena siksa; jika ternyata Tuhan ada dan Dia Tuhan yang adil, Anda tidak perlu khawatir karena Anda telah menggunakan akal Anda dengan jujur; dan jika ternyata Tuhan ada dan Dia Tuhan yang tidak adil, Anda tentu akan khawatir, tapi begitu juga yang lainnya, termasuk para penganut agama.
Ateisme harus selalu dipertimbangkan sebagai sesuatu yang menghargai akal untuk mencapai kebenaran.

Add New Reply: