Tantangan untuk Membuktikan Eksistensi Tuhan (2)


Berikut adalah syarat kedua untuk membuktikan eksistensi Tuhan. Eksistensi makhluk supranatural (Tuhan) harus dapat ditunjukkan melalui bukti dan argumen, tak boleh sekedar mempercayai bahwa dia ada.
Ada kecenderungan dari penulis teis yang mengatakan bahwa ateis tidak dapat mengerti argumen mereka karena apa yang mereka ungkapkan didasarkan pada kepercayaan.
Dan agar dapat mengerti, orang harus percaya dulu. Well, yang seperti bukan bukti. Bukti harus terlihat oleh semua orang siapapun itu, tak perlu harus percaya dulu. Seperti bukti eksistensi matahari yang bisa dilihat dan dipahami oleh semua orang.
Orang tidak harus percaya dulu bahwa matahari eksis baru kemudian ditunjukkan buktinya. Orang yang mulanya tidak percaya matahari akan menjadi percaya setelah ditunjukkan bukti. Seperti itu hakikat bukti, mesti jelas dan meyakinkan.
Jadi logikanya harus seperti ini: Ada bukti maka orang percaya, bukan malah dibalik, percaya dulu baru kemudian dicari buktinya.
Pendekatan untuk percaya saja lebih dulu ini didukung oleh seorang filsuf bernama Stephen Toulmin dalam bukunya “Reason in Ethics”:
“Eksistensi Tuhan adalah sesuatu yang tidak membutuhkan bukti. Apakah Tuhan eksis harus dijadikan pertanyaan terakhir. Kita harus menerima eksistensi Tuhan terlebih dahulu, maka bukti akan datang belakangan.”
Implikasi dari pernyataan ini akan absurd. Untuk lebih jelasnya, mari kita ikuti perdebatan berikut, antara orang yang percaya peri dengan yang tidak.
Percaya peri  (PP):”Ketahuilah, ada peri ajaib diam di kepalaku.”
Skeptis (S):”Aku tidak melihat apa-apa.”
PP: “Tentu saja, karena dia tak terlihat.”
S: “Aku juga tidak merasakan apapun.”
PP: “Itu karena dia tidak terbuat dari materi. Peri ini adalah sesuatu yang gaib.”
S: “Tapi kenapa aku harus percaya akan klaim mu soal peri itu? Seperti apa peri itu, apa bukti eksistensinya?”
PP: “Eksistensi peri ini tidak membutuhkan bukti. Apakah peri ini eksis harus dijadikan pertanyaan terakhir. Alih-alih, kita harus percaya dulu adanya peri ini, selanjutnya bukti akan datang belakangan dengan sendirinya.”
Pendekatan seperti ini jelas irasional. Bukti harus ditunjukkan terlebih dahulu sebelum kita dapat mempercayai sesuatu.
Tidak masuk akal percaya terlebih dahulu untuk kemudian mencari bukti untuk mendukung kepercayaan itu. Ini dinamakan rasionalisasi, bukan sesuatu yang rasional.
Tapi anggap saja si skeptis percaya akan adanya peri tersebut tanpa adanya bukti. Pertanyaan selanjutnya, bukti macam apa yang bisa membuktikan peri itu ada?
S: “Baik, saya percaya soal peri itu meski tanpa adanya bukti, tapi bisakah kamu mendeskripsikan lebih jauh tentang peri ini? Karena aku sama sekali tidak tahu sebenarnya mempercayai apa.”
PP: “Peri ini dapat menyebabkan turunnya hujan.”
S: “Lalu..?”
PP: “Setiap turun hujan, saat itulah peri ini melakukan aksinya. Bukti apalagi yang kau inginkan?”
Argumen ini tipikal argumen para teis. Teis akan meminta ateis untuk percaya akan ide tentang Tuhan sebagai pencipta alam semesta yang bertanggung jawab atas keteraturan alam, dll.
Teis kemudian akan menunjuk eksistensi alam semesta sebagai bukti eksistensi Tuhan.
Kenapa harus mengasumsikan kalau keteraturan alam ini membutuhkan Tuhan? Dalam konteks ini Tuhan ujug-ujug diasumsikan eksis sebelum bisa dibuktikan. Untuk merasionalisasi kepercayaan itu lantas dicari-cari bukti akan eksistensiNya dengan menunjuk keteraturan alam semesta, dll.
Dalam kasus ini, ide adanya Tuhan diterima lebih dulu sebelum ada bukti-bukti yang menunjukkan eksistensinya.
Pengajuan ‘bukti’ macam ini mesti ditolak, Tuhan telah diasumsikan eksis  sebelum dibuktikan. Lagipula, jika semisal Tuhan ini ada, apa yang membuat kita yakin bahwa Dia adalah Tuhan Ibrahim, bukan Zeus atau Brahma?
Kita harus menerima hanya bukti nyata akan adanya makhluk supranatural. Jika ini tidak bisa dibuktikan, maka posisi ateis lah yang lebih kuat (bersambung disini).
Referensi: Atheism: The Case Against God by George H. Smith

Add New Reply: