Psikologi Ateis


Dalam sebuah survei di Amerika Serikat pada tahun tujuan puluhan dan delapan puluhan, orang yang mengaku tidak mengikuti agama apapun adalah orang yang lebih muda, kebanyakan pria, berpendidikan dan berpendapatan tinggi, lebih liberal, sering tidak bahagia dan terasingkan dari masyarakat kebanyakan. Berdasarkan 12.043 wawancara pada tahun 2004, sembilan persen dari orang Amerika yang mengaku tidak ikut agama apapun atau secara terang-terangan mengaku ateis atau agnostik cenderung secara politik liberal, Demokrat, mandiri, lebih muda, hidup di Barat, mahasiswa, dan mereka yang tinggal dengan seseorang tanpa pernikahan. Di Australia, kaum sekular memiliki tingkat pendidikan lebih baik daripada kebanyakan penduduk, secara sosial bebas, mandiri, dan kosmopolit. Di Kanada, data sensus dan survei nasional menunjukkan bahwa yang mengaku tidak beragama kebanyakan muda, pria, masyarakat perkotaan, dan kelas elit. Disamping itu data dari semua budaya menunjukkan bahwa wanita lebih relijius daripada pria.
Beberapa ateis dibesarkan tanpa ajaran agama sama sekali, yang lain memilih menolak ajaran masa kanak-kanak. Apostasi dan konversi dianggap sebagai penolakan terhadap identitas dan kepercayaan orang tua. Menurut seorang psikoanalis Kristen, Stanley Leavy, ateisme dapat merupakan ekspresi pembebasan dari dominasi orang tua seseorang. Penelitian tentang orang yang berasal dari keluarga relijius dan kemudian memilih menjadi ateis menunjukkan bahwa mereka memiliki hubungan yang renggang dengan orang tua masing-masing. Caplovitz dan Sherrow menyatakan bahwa kualitas hubungan dengan orang tua ialah salah satu variabel penting, disamping komitmen pada intelektualisme.
Orang ateis memiliki kemampuan adaptasi terhadap realitas dan psikoanalisis—yang merupakan metode efektif untuk beradaptasi terhadap realitas—secara alamiah mendorong pada ateisme. Schumaker, dalam sebuah survei literatur, melaporkan hubungan antara ketidakberagamaan dan masalah-masalah psikologis. Berbeda dengan Ventis yang menyimpulkan orang non-relijius secara psikologis lebih sehat daripada orang relijius. Dalam kaitannya dengan kemampuan intelektual, L. M. Terman dan koleganya pada tahun 1925 mulai memelajari seribu lima ratus dua puluh delapan remaja berbakat yang memiliki IQ lebih dari 140, berusia sekitar dua belas tahun. Ketika mencapai usia pertengahan sepuluh persen pria dan delapan belas persen wanita memiliki kepercayaan relijius yang kuat. Sekitar enam puluh dua persen pria dan lima puluh tujuh wanita mengakui memiliki sedikit kecenderungan relijius, sementara dua puluh delapan persen pria dan dua puluh tiga persen wanita menyebutnya sebagai sama sekali tidak penting.

Add New Reply: