Kenapa untuk Menjadi Atheis harus lebih Intelek dari Beragama?


Tulisan ini khusus bagi yang ingin benar-benar berpikir. Anak-anak dilarang masuk. Yang fanatik beragama apalagi.
Kenapa untuk menjadi seorang Atheis harus lebih intelek dari pada menjadi seorang yang beragama?
Meminjam analisis Aguste Comte (Fisuf  Perancis Abad 18), ada tiga tahap evolusi kesadaran manusia:

Pertama: Fase Teologis
Fase teologis ini juga tidak sekali jadi. Tapi berawal dari Animisme. Manusia mempercayai benda-benda dan gejala-gejala alam mengandung kekuatan ghaib. Berjiwa, sakti dan keramat. Batu, binatang, gunung dan benda-benda alam lainnya dipercayai mempunyai kekuatan supra natural. Petir, badai, gempa bumi diyakini sebagai dewa-dewa lagi murka. Singkatnya pada fase ini kesadaran manusia penuh dengan tahyul dan mitos. Dan ini adalah fase yang paling primitif. Tanpa modal tanpa belajar, manusia refleks meyakini akan hal ini.
Setapak kemudian kesadaran manusia primitif ini berevolusi ke fase berikutnya. Yaitu fase Politheisme. Manusia mulai mengakui ada yang menguasai alam. Tetapi yang menguasai alam itu banyak, banyak Dewa. Dan setiap Dewa akan menguasai bidangnya masing-masing, sehingga ada Dewa air, Dewa Api, Dewa Matahari, Dewa Angin dan seterusnya.
Kemudian dari fase ini berkembang lagi menjadi Monoteisme, dimana manusia hanya mempercayai adanya satu kekuatan dibalik alam semesta. Segala Dewa akhirnya dikembalikan menjadi satu kekuatan kodrati saja. Dialah satu-satunya yang menguasai seluruh jagat raya. Dengan sebutan Tuhan, Allah dan sejenisnya. Singkatnya hanya ada satu Keilahian dibalik segala yang ada.

Kedua: Fase Metafisis
Karena manusia terus berpikir, maka kesadarannya kemudian berkembang pada fase metafisis. Dimana kepercayaan akan Keilahiaan yang monotheisme itu tidak lagi dalam bentuk persona (Zat yang berpribadi). Tetapi adalah kekuatan Abstrak Universal. Misalnya Tuhan, Allah dan sejenisnya dipahami sebagai konsep-konsep poros atau sumbu dari alam dan kehidupan.

Ketiga: Fase Positif
Karena proses belajar dan berpikir manusia terus berkembang, maka akhirnya manusia sampai pada fase puncak dari evolusi kesadarannya. Yaitu fase positif. Dimana manusia tidak lagi peduli apakah ada kekuatan ghaib ataupun Ilahiah dibalik alam semesta. Manusia tidak lagi peduli dan tidak mempercayai adanya kekuatan Adi Kodrati dalam kehidupan.
Kesadaran manusia sudah terfokus pada hukum alam yang postif. Manusia dengan kekuatan akalnya akhirnya mampu mempelajari gejala alamiah atau mekanisme hukum alam yang ilmiah dan empiris. Singkat kata hanya manusia-manusia yang memberdayakan kekuatan akalnya, yang benar-benar berpikir yang akan bisa mencapai pada fase positif ini.
Ibarat fase pertumbuhan dan perkembangan, pada waktu anak-anak, tanpa proses belajar refleks manusia itu mempercayai ada kekuatan magis pada benda-benda dan gejala-gejal alam (Animsime-Teologis). Kemudian setelah remaja manusia mulai berpikir abstrak, maka dia melangkah ke fase metafisis. Dan akhirnya setelah dia dewasa, barulah dia sadar bahwa hukum alamlah puncak dari kesadaran manusia.
Singkatnya, sewaktu kanak-kanak manusia menjadi seorang Teolog, setelah remaja menjadi seorang Metafisikus dan akhirnya setelah dewasa menjadi seorang Ilmuwan.
Dan sejarah membuktikan bahwa pada mulanya ilumu dikuasai oleh konsep-konsep Teologis, kemudian berkembang pada khayalan atau ilusi metafisis, dan akhirnya memuncak pada pengetahuan positif atau Ilmu Pengetahuan Empiris.
Nah, dari penalaran Aguste Comte ini, bisakah dipahami bahwa memang untuk menjadi seorang Atheis-Positifis butuh proses yang panjang dan proses berpikir yang tidak mudah? Dengan kata lain, untuk menjadi seorang Atheis-Positifis lebih membutuhkan intelektualitas yang tinggi ketimbang menjadi seorang beragama yang bisa terjadi secara refleks dengan langsung MEMPERCAYAI kekuatan ghaib, mitos, tahyul, dan dogma tanpa proses berpikir?
Bagaimana menurut anda?

1 komentar:

bakron mengatakan...

mantapppppppp...