Kenapa Orang Menjadi Ateis?


Banyak alasan kenapa orang menjadi ateis. Pendapat umum menyatakan orang menjadi ateis karena pernah terjadi trauma dalam kehidupan pribadi mereka.
Orang menjadi ateis karena adanya krisis psikologis yang berhubungan dengan agama, gereja, masjid atau sebab lain hingga orang itu akhirnya membenci Tuhan. Namun kenyataannya tidak serumit itu. Untuk membenci Tuhan, seorang ateis harus mempercayaiNya dulu. Padahal, ateis percaya Tuhan tidak eksis.
Pada awalnya mereka mungkin hanya mempertanyakan beberapa doktrin agama mereka. Pertanyaan yang muncul akibat proses berpikir biasa. Untuk mencari jawaban sebagian lantas bertanya kepada tokoh agama.
Karena tidak mendapatkan jawaban memuaskan, mereka lantas berusaha mencari dengan meneliti literatur dan dengan cara-cara lain. Pencarian ini bisa berlangsung berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun.
Orang juga bisa jadi ateis karena dibesarkan dalam keluarga non relijius. Semenjak muda mereka telah mempertanyakan kepercayaan mereka. Mereka tidak pernah menjadi penganut yang taat.
Orang menjadi ateis karena agama tidak mampu memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan besar manusia. Pertanyaan yang agama selalu mengklaim punya jawabannya.
Kita berbicara atas pertanyaan-pertanyaan seperti “Buat apa saya diciptakan?” “Apa arti dari hidup ini?” dan “Darimana saya berasal?” Agama gagal memberikan jawaban berarti atas pertanyaan-pertanyaan tersebut. Agama hanya mengulang-ulang jawaban yang tidak logis dan itu-itu saja.
Tentu akan terasa menyenangkan membayangkan bahwa setelah mati kita akan pergi ke tempat yang menyenangkan di sisi Tuhan. Andai saja kenyataannya seperti itu.
Klaim keberadaan Tuhan sebenarnya tidak didukung bukti kuat. Mempercayai Tuhan juga tidak memberikan banyak guna. Kepura-puraan dan sikap ‘ignorance’ tidak pernah membuat manusia jadi lebih baik. Sebaliknya, agama justru menjadi sumber intoleransi dan kebencian. Agama justru menjadi penghalang perkembangan sains, kemerdekaan, dan pembaruan.
Dalam sejarahnya, manusia telah ‘menciptakan’ banyak tuhan dan dewa. Semuanya hanya dilandaskan pada mitologi. Sesungguhnya Tuhan ‘buatan’ manusia modern pada dasarnya tidak berbeda dengan dewa-dewa Yunani atau Romawi.

Add New Reply: