Inilah Jawaban Umat Islam yang Menjengkelkan


Selalu dan selalu saja SEBAGIAN umat Islam suka menjawab dengan bukan jawaban. Jawaban yang berputar-putar. Tanpa jelas ujung pangkalnya.
Asal ada perbincangan kritis soal agama, selalu dipotong: “Agama tidak bisa dipahami dengan akal saja.”
Lalu ketika dikejar dengan pertanyaan: Lalu kalau tidak dengan akal dengan apa?”
Mereka menjawab: “Ya dengan iman”
“Dengan Iman? Bagaimana maksudnya memahami agama dengan iman?”
“Orang yang beriman akan meyakini Islam sebagai agama yang benar.
Satu-satunya agama yang diridhoi oleh Allah.”
“Ya tapi bagaimana cara memahaminya?”
“Jangan dipahami hanya menurut pikiran kita”
“Jadi dengan pikiran siapa?”
“Pahamilah Alquran. Bacalah dengan iman. Maka akan ditemukan kebenaran di dalamnya”
(Kemudian mereka mengutip ayat Alquran sebanyak-banyaknya)
“Ya yang saya maksudkan bagaimana CARA MEMAHAMInya. Kalau soal ayat itu saya juga bisa mengutip berapa anda mau.”
“Kalau hati anda sudah tertutup, anda tidak akan bisa meyakini kebenaran Islam”
“Bukan soal tertutup atau terbuka. Persoalannya bagaimana cara memahaminya jika bukan dengan akal?”
“Akal manusia itu terbatas. Manusia tidak akan mampu memahami segala sesuatunya sampai tuntas”
“Ya pertanyaannya dengan apa memahami agama itu kalau bukan dengan akal. Bukankah anda sering menyatakan bahwa agama itu hanya untuk orang berakal?”
“Betul. Tapi akal yang sudah diterangi oleh iman. Bukan akal yang menolak agama”
“Artinya secara tidak langsung anda mengatakan bahwa memahami agama memang dengan akal?”
“Tidak bisa hanya dengan akal”
“Tidak bisa HANYA dengan akal? Berarti sekian persen bisa maksudnya?”
“Akal harus dituntun dengan iman”
“Seperti apa akal yang dituntun dengan iman?”
“Akal yang sudah mendapat hidayah dari Allah”
“Seperti apa akal yang demikian?”
“Akalnya para ulama, para orang-orang saleh. Mereka tunduk dan patuh pada perintah Allah. Bukan melawan agama Allah”
“Bukankah soal tunduk patuh itu soal pengamalan. Soal praktek agama. Yang saya tanyakan bagaimana akal yang sudah diberi hidayah oleh Allah. Seperti apa contohnya dan apa batasannya?”
“Coba baca buku-buku dan dengar kotbah mereka. Isinya adalah menyeru agar umat Islam taat pada Allah. Bukan untuk mendustai ayat-ayat Allah.”
Dan seterusnya ……
Jutaan sel saraf otak saya rontok menghadapi dialog seperti ini. Dan nyaris, model dialog agama umat Islam rata-rata demikian. Semakin panjang bukan semakin jelas pokok persoalan. Tapi semakin berputar-putar tanpa jelas ujung pangkalnya.
Semakin ngawur dan bertele-tele.
Saya tidak habis pikir, apa guna otak diberikan oleh Tuhan bagi mereka. Saya tidak habis pikir, entah apa arti menuntut ilmu bagi mereka.
Saya tidak habis pikir, kenapa agama seakan-akan sesuatu yang tak bisa disentuh oleh akal.
Jika demikian, jika agama sesuatu yang tidak bisa didekati,
seolah-olah mahkluk asing yang tidak bisa dipahami, lalu untuk apa?
Bukankah agama itu untuk dipakai?
Apa artinya memakai asal pakai?
Apa artinya agama jika tidak dimengerti?
Umumnya mereka gemar meneriakan slogan: “Agama tidak untuk dikritik, tapi untuk dijalani, untuk diamalkan”
Pernyataan seperti ini menimbulkan gempa bumi 1000 slaka Richter di benak saya. Segala alur penalaran dan metode berpikir saya berguncang. Berantakan! Apa maksudnya agama tidak untuk dikritisi lalu hanya untuk diamalkan?
Apakah agama mirip dengan memerintahkan anak-anak seperti ini:
“Hei ayo jalan! Jangan banyak tanya!”
Saya justru mengartikan pernyataan itu seperti ini:
“Hei pakai selimut agama. Jangan pakai otak!”

1 komentar:

Anonim mengatakan...

This is just like my experience when I'm facing some debates with my friends. Their arguments are only consisted with hadits & iman. I wonder when will they able to prove the God without some fairy tales that are tingling through their mind.
I also wonder what's the real definition of iman. Is it only being diligent to God or also doing something good to humanity? Sometimes people that are proved to be full with iman-ness are lack of humanity. In short: oxymoron.