Beberapa Kelemahan Tuhan


Ternyata tidak hanya manusia yang punya kelemahan. Tuhan pun juga punya kelemahan. Setidaknya itulah menurut kaum yang menolak mempercayai adanya Tuhan. Mereka melihat titik lemah atau ada beberapa kontradiksi logis jika Tuhan itu ada dengan berbagai sifatnya yang Absolut, dalam hubungannya dengan alam dan manusia.
Pertama: Tuhan memasung kebebasan manusia
Tuhan adalah sesuatu yang mengatasi segalanya. Dia Maha SegalaNya. Tidak ada yang bisa menyaingi apalagi mengalahkanNya. Karena Tuhan itu Absolut. Dalam segala sisi. Nah, sebut saja salah satu contoh soal kebebasan. Jika Tuhan ada, maka tidak ada yang namanya kebebasan. Manusia akan menjadi tidak bebas memilih. Manusia tidak bebas berkehendak. Manusia tidak bebas ingin memikirkan apa yang ingin dipikirkannya. Manusia tidak bebas apakah besok pagi dia akan membuka internet atau pergi ke kantor.
Kenapa? Karena segalanya sudah ditentukan dan dikuasai oleh Tuhan. Jika tidak demikian, maka secara logika, akan menjadi kontradiksi. Tuhan yang diklaim sebagai maha segalanya, menjadi tidak lagi serba maha. Jika saya bebas mau melakukan tindakan sesuai kemauan saya, berarti fungsi kekuasaan Tuhan menjadi hilang dari tindakan saya. Tuhan tidak ikut campur lagi. Dan kenyataannya memang demikianlah yang terjadi. Manusia bebas memilih dan bertindak. Nah lho? Dimana Tuhan berfungsi?
Artinya dalam konteks ini hanya ada 2 pilihan. Pertama, jika diyakini Tuhan ada, maka serentak manusia itu tidak bebas. Dan kedua, jika diyakini Tuhan tidak ada, maka barulah kebebasan manusia bisa dipahami.
Karena kasus inilah logika kaum Theis atau kaum beragama menjadi berputar-putar bila sudah berbicara soal kebebasan manusia.
Inilah pendapat yang paling mennonjol dari Jean Paul Sartre, seorang Eksistensialis yang Atheis dari Prancis di abad -20.
Kedua: Tuhan membiarkan manusia menderita
Jika Tuhan memang berkuasa, maha segalanya, kenapa Tuhan membiarkan manusia dalam penderitaan berkepanjangan? Lihatlah betapa menderitanya anak-anak yang dilahirkan dalam keadaan cacat. Lihatlah orang-orang yang menderita karena suatu penyakit hingga tidak tertahankan. Kenapa Tuhan tidak kuasa menghilangkan penyakit? Kenapa pada akhirnya manusia juga yang berusaha mengatasinya? Dengan cara mempelajari apa penyebabnya dan mencari, meramu dan menciptakan obat untuk menyembuhkannya?
Jika memang diklaim Tuhan itu Maha Pengasih, Maha Penyayang dan seagala sifat-sifat muliaNya, kenapa Tuhan tidak berperan ketika segala penderitaan dialami manusia? Sama dengan kasus yang pertama. Jika Tuhan itu ada, tentunya Dia sanggup mengatasi masalah ini. Tapi kenyataannya tidak. Manusialah yang selalu menanggung tanggung jawab atas penederitaannya. Manusialah yang berusaha mengatasinya sendiri. Dan jika manusia tidak mampu, seperti yang terjadi pada anak-anak yang terlahir dalam keadaan cacat, mereka menanggung penderitaan itu sepanjang hidupnya.
Ketiga, Tuhan membiarkan kejahatan merajalela
Jika Tuhan memang Maha Berkuasa dan Maha Damai, kenapa berbagai kejahatan tidak hilang bahkan selalu merajalela di muka bumi? Mana janji Tuhan jika memang kebenaran itu selalu menang. Dan kenyataannya, janji itu tidak terbukti. Orang-orang baik selalu bisa dikalahkan oleh orang jahat. Sekian ratus bahkan ribuan orang-orang tak bersalah di sepanjang sejarah manusia mati dibunuh dan diperangi oleh orang-orang jahat.
Singkatnya, segala bentuk kejahatan, seperti penindasan, korupsi, pencurian, perampokan dan perang tetap saja berlangsung sepanjang masa. Dan korbannya adalah justru orang-orang yang tidak bersalah bahkan orang baik-baik. Nah lho? Dimana bukti bahwa Tuhan itu kuasa dan kasih?
Kenyataannya, manusia juga yang berusaha mengatasi setiap konflik pertikaian yang terjadi antar sesama mereka. Itu pun jika kedua belah pihak yang bertikai menemukan kesepakatan untuk damai. Jika tidak maka pertikaian mereka akan tetap berlanjut, bahkan dengan tindak kejahatan yang lebih tinggi atau lebih sadis lagi.
Jika Tuhan itu ada, yang diklaim sebagai Maha Cinta Damai, maka tentu Dia mampu mengatasi dan menghabisi segala kejahatan di muka bumi. Tapi kenyataannya tidak. Kejahatan tetap saja merajalela di mana-mana.
Keempat, Tuhan membiarkan bencana alam menyiksa manusia
Jika Tuhan memang ada dengan sifatNya yang Maha Kuasa dan Maha Pengasih, kenapa Tuhan tetap membiarkan bencana alam terus berlangsung sepanjang sejarah kehidupan? Dan entah sudah berapa banyak manusia jadi korban karena bencana alam seperti, banjir, angin topan, sambaran petir, letusan gunung berapi, gempa bumi dan sampai tsunami. Dan manusia yang mempercayai Tuhan tak henti-hentinya berdo’a hingga menangis. Tapi bencana demi bencana tetap saja terjadi. Do’a itu sama sekali tidak ada pengaruhnya pada bencana alam. Tidak menghalangi terjadinya bencana.
Apakah Tuhan tidak menjawab do’a manusia? Tidak. Bukan karena do’a itu tidak dikabulkan Tuhan.
Jawabannya memang Tuhan itu tidak ada. Jika Tuhan itu ada, dengan segala sifat mulia yang dinisbatkan padaNya, tentu Dia akan Kuasa untuk mengatasi dan menghentikan segala bencana alam yang terjadi. Tapi kenyataannya tidak. Bencana itu akhirnya harus dihadapi manusia sendiri. Untuk sebagian bencana sudah bisa dikendalikan manusia dengan kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Tapi untuk yang belum, bencana itu tetap saja berlangsung.
Nah, apa arti dari semua ini?
Itulah beberapa kelemahan atau kontradiksi penalaran dari kaum Theis (berTuhan) dalam kacamata kaum Atheis dan Agnostik. Keempat pertanyaan tersebut adalah pertanyaan kunci mereka terhadap orang-orang yang beriman pada Tuhan. Dan menurut mereka, 4 pertanyaan itu tidak terjawab oleh kaum beriman. Jawaban yang mereka berikan hanya logika yang berputar-putar, alias jawaban yang tidak logis apalagi realistis. Paling tinggi, jawaban pamungkas mereka adalah: Disitulah manusia diuji imannya, sehingga siapa yang tabah menjalaninya maka itulah yang akan mendapatkan balasannya di akhirat oleh Tuhan.
Jawaban ini bagi mereka bukanlah sebuah jawaban. Tapi hanya pembelaan yang tidak menjawab persoalan. Hanya sebuah ilusi atau utopia cengeng yang tidak menyelesaikan persoalan. Dan terbukti orang-orang yang menggunakan jawaban seperti itu, dalam kenyataannya, justru bersandar pada orang yang tidak percaya pada Tuhan. Pada orang yang merumuskan, menciptakan alat dan teknologi untuk kemudahan hidup tanpa menggantungkan hidup pada Tuhan.
Kenyataannya, orang-orang beriman menunggu ramalan cuaca, menunggu kapan pesawat terbang bisa ditumpangi, kapan teknologi pengobatan kanker bisa menyelamatkan manusia, kapan alat penedeteksi gejala gempa akan diluncurkan, kapan bendungan raksasa Tsunami akan dibangun dan sebagainya dari kaum Ilmuwan yang bekerja tanpa postulat adanya Tuhan. Tapi giliran keempat pertanyan di atas diajukan pada mereka yang beriman, maka mereka kembali lagi mengeluarkan senjata pamungkasnya: Tuhan sedang menguji iman manusia. Jadi ada kontradiksi antara sikap dan praktek hidup mereka dengan apa yang mereka yakini.
Nah, lebih kurang itulah 4 pertanyaan, sebagai kelemahan kepercayaan akan Tuhan dalam pandangan kaum Atheis dan Agonstik sejauh yang saya pahami.
Sekarang bagaimana menurut anda?

Add New Reply:

Eko Permono Jati mengatakan...

Justru engineer, scientist, ilmuan, itu mayoritas orang beragama bro, banyakin baca deh. Analisa anda terlalu dangkal mirip orang frustasi terhadap hidupnya.

Andri Gunawan mengatakan...

Atheis emang orang yg frustasi dengan kehidupan budaya, sosial dan agama.
Pendalaman filsafatnya dangkal..