Ateisme dan Moralitas: Buat Apa Berbuat Baik Jika Tidak Percaya Imbalan Surga?


Artikel ini merupakan ringkasan dari tulisan Ali Sina yang berjudul “Berbuat Baik Jika Tak Ada Hidup Setelah Mati?”  (Sumber: indonesia.faithfreedom.org)
Saya tidak tahu apa yang terjadi pada kita setelah mati nanti. Kemungkinan besar kita akan musnah begitu saja. Apa mungkin ada sebuah realitas untuk kita tinggali setelah kita mati? Tak seorangpun yakin akan itu dan saya bilang kemungkinan jawabannya adalah ‘tidak’.
Banyak sekali hal-hal yang tidak diketahui oleh kita, manusia. Mungkinkah dunia ini jauh lebih kompleks dari yang nampak ? Mungkinkah ada dunia lain dengan dimensi paralel berbeda dengan kita yang kita tidak ketahui?
Kalaupun dunia demikian itu ada, kita tidak punya bukti dan dengan demikian hal itu cuma spekulasi saja. Tidaklah bijak utk menggantungkan hidup kita pada hal-hal yang bersifat spekulasi. Tapi ada satu kehidupan yang kita bisa pastikan, dan itu adalah kehidupan yang sekarang. Kita harus maksimalkan kehidupan ini.
Cara terbaik utk memaksimalkan hidup adalah dengan membuat spesies kita maju. Kita manusia adalah mahluk sosial. Kebahagiaan kita tergantung pada kebahagiaan orang-orang lain. Alam telah membuat kita sedemikian sehingga kenikmatan terbesar yang kita rasakan adalah dengan memberi dan menolong pihak lain.
Mereka yang menolong pihak lain melakukannya karena mereka merasa nikmat menolong. Tidak ada kenikmatan yang lebih besar daripada perbuatan membuat orang lain bahagia. Binatang punya dorongan alami utk memberi dan melindungi anak-anak mereka. Diluar itu, kecuali spesies-spesies tertentu, binatang tidak punya rasa empati yang begitu besar.
Sebuah studi menunjukkan bahwa daerah pada otak yang berhubungan dengan pemikiran level-tertinggi, empathy (empati),* dan rasa bersalah, kurang dipakai oleh para remaja. Waktu mempertimbangkan sebuah tindakan, Medial Prefrontal Cortex pada anak remaja, yang bertempat pada otak bagian depan, tidak mendapat rangsangan sebanyak orang dewasa.
Empati menjadi bagian dasar dari sifat alami manusia yang membuat orang peduli pada pihak lain. Studi ini menunjukkan bahwa empati adalah sebuah tingkah laku yang dipelajari yang berkembang dalam diri manusia seraya ia berangkat tua.
(*empathy: kemampuan merasakan kebahagiaan/derita orang lain)
Studi lain menunjukkan bahwa kerusakan pada otak membatasi rasa empati ini. Ketika ditanya apa mereka akan membunuh seseorang untuk tujuan yang lebih besar, seperti menyelamatkan orang yang lebih banyak, mereka yang otaknya rusak sering menjawab positif sementara yang normal otaknya tidak mau membunuh satu orangpun meski untuk tujuan yang lebih besar.
Menurut Dr. Antonio Damasio, salah seorang ketua studi, “Bagian dari moral tingkah laku kita ditempatkan … dalam bagian khusus pada otak kita,”
Sebuah team ilmuwan Neuro Social-cognitive dari Amerika dan Perancis telah mengidentifikasi jaringan region otak yang terlibat dalam tingkah laku ‘meniru-niru/peniruan’ pada manusia. Maksud dari riset ini adalah utk menemukan dasar otak dari interaksi sosial manusia, khususnya empati.
Team ini dikepalai oleh ilmuwan syaraf Jean Decety dari Institut de la Santé et de la Recherche Médicale di Perancis dan ilmuwan tamu dari University of Washington ’s Center for Mind, Brain & Learning, and developmental psychology, psikolog Andrew Meltzoff, wakil direktur dari pusat penelitian tsb.
Studi mereka menunjukkan bahwa empati dipelajari lewat peniruan. “Pekerjaan ini penting karena peniruan adalah sebuah prosedur alami. Kita tidak belajar meniru. Karena sudah menjadi bagian dari sifat biologis kita dan kita lahir utk meniru,” kata Decety.
Anak-anak belajar empati jika mereka melihat empati itu. Salah sekali mengasumsikan semua budaya itu sama atau percaya kebohongan bahwa semua orang itu sama dan jahat dan baik itu tersebar sama banyaknya diantara semua bangsa.
Ada bangsa yang betul-betul lebih baik dari bangsa lain. Ada masyarakat yang pada umumnya kurang rasa empatinya. Dalam masyarakat Barat, orang baik adalah yang normal dan orang jahat adalah pengecualian.
Dalam masyarakat Muslim justru terjadi yang sebaliknya. Ini tidak masuk akal, karena kita secara genetis semuanya dibuat dari bahan dan spesies yang sama. Yang berbeda hanyalah pendidikan, sistem kepercayaan dan etos (etika).
Sebuah masyarakat secara keseluruhan bisa saja tidak punya empati, jika etos dari masyarakat itu tidak mendorong dan memajukan empati lewat pengajaran dan peniruan orang-orang dlm masyarakat tersebut.
Evolusi empati pada orang Barat terjadi baru-baru ini saja. Seratus tahun lalu orang Barat tidak peduli dalam melakukan kolonisasi bangsa lain, menundukkan mereka dan mengeksploitasi mereka.
Perang opium antara Inggris dan China juga karena kurangnya rasa empati orang Eropa terhadap orang lain. Contoh lain adalah apa yang dilakukan Jerman 60 tahun lalu.
Tapi, pastilah baik orang Jerman maupun orang Inggris sekarang tidak akan membiarkan pemerintahannya melakukan tindakan-tindakan demikian lagi pada kemanusiaan. Etos orang-orang ini telah berubah dan hasilnya tingkat rasa empati mereka juga berubah.
Jelas kita bisa mengembangkan atau kehilangan empati lewat pendidikan dan kepercayaan. Malah sangat mengherankan betapa cepatnya orang mendapatkan atau kehilangan empati.
Saya tidak merasakan penderitaan atau sedih mendengar kematian Musab al Zarqawi yang mengerikan, teroris Yordania yang membunuh lebih dari seribu orang di Irak, tidak juga sedih ketika Saddam Hussein digantung. Saya akui saya bahkan merasa lega, dan berita kematian mereka terasa enak terdengar.
Perasaan ini terasa asing dan aneh bagi saya. Saya sering merasakan derita orang lain, tidak dalam pikiran saja tapi bahkan dalam tubuh saya. Melihat gambar wanita yang dilempari batu membuat badan saya sakit, seakan juga terkena batu. Meski ada sensor untuk video penyembelihan manusia, saya juga tidak tega menontonnya. Saya merasakan pisau ditenggorokan dan saya harus menyetop video itu atau menutup mata.
Satu-satunya jalan untuk menjelaskan standar ganda ini adalah kita manusia mestilah punya kemampuan untuk mematikan atau menyalakan empati sekehendak kita. Jika para teroris terbunuh, saya benarkan kematian mereka dan merasa nyaman. Ketika orang tak bersalah terbunuh, saya merasa terganggu dan empati pada mereka. Ini pilihan yang saya ambil.
Empati membuat kita merasakan bukan hanya penderitaan orang lain, tapi juga kebahagiaan mereka. Benar kan jika melihat orang lain bahagia karena kita otomatis membuat kita bahagia pula? Kebalikannya juga benar. Melihat orang lain menderita membuat kita sedih dan khawatir. Mereka yang punya tingkat empati tinggi bisa merasakan kebahagiaan orang lain. Inilah inti masalahnya.
Kenapa kita harus berbuat baik satu sama lain, menolong orang lain dan berjuang membawa kebahagiaan pada hidup orang lain, jika tidak ada neraka dan surga? Jawabannya adalah bahwa sekali kita sudah mengembangkan empati, kita tidak perlu hadiah-hadiah, kompensasi-kompensasi akan kebaikan-kebaikan kita.
Fakta bahwa kebaikan kita membuat orang lain tertolong dan membuat mereka bahagia itu sudah jadi pahala sendiri. Kebahagiaan orang lainlah yang membuat kita bahagia.
Banyak orang tidak tahu Nazanin, gadis Iran yang dihukum gantung oleh pengadilan Islam karena membela diri dari perkosaan, dan menyebabkan pemerkosanya mati. Orang-orang merasakan penderitaan dia dan mulai pawai untuk menimbulkan kesadaran publik terhadap pembelaannya dan meminta kebebasan baginya. Dibawah tekanan dunia, pengadilan Iran goyah dan membebaskannya.
Senyumnya setelah mendapatkan kebebasan membawa kebahagiaan dihati semua yang berjuang baginya. Saya merasa terharu dan menangis bahagia meski saya tidak kenal gadis muda ini. Ini yang disebut empati. Kita merasakan sakit orang lain dan bahagia melihat kebahagian mereka. Tidak ada pahala lain diperlukan untuk ini. Pahalanya sudah langsung kita dapatkan dan sudah ada dalam perbuatan kita itu sendiri.
Jadi, kenapa kita harus berbuat baik satu sama lain? Karena membuat kita merasa enak, nyaman, baik. Itu saja. Pahala dan hukuman bagi tindakan kita ada disana didunia ini dalam tindakan-tindakan kita sendiri.
Kita manusia saling sayang satu sama lain. Ketahanan hidup kita sebagai spesies tergantung pada hal itu. Dengan demikian, empati adalah hal alami dan sebuah keharusan dalam hidup sebagai manusia. Dengan memberi, kita memperkaya hidup kita.
Memberi mengesahkan rasa kemanusiaan kita dan membuat kita lengkap. Kita merasa kenikmatan dalam memberi, menolong, membuat orang lain bahagia dan mengangkat penderitaan orang lain. Ini sangat alami bagi kita manusia, kecuali jika kita kehilangan hal itu lewat indoktrinasi iblis.
Orang tidak perlu agama atau kepercayaan untuk punya empati karena sudah menjadi bagian dari evolusi kita, sama seperti kecerdasan. Tapi, seperti kecerdasan juga perlu di pupuk untuk berkembang.
Karena agama adalah pengungkapan dari hal-hal yang mulia dan baik bagi kita manusia, kebanyakan agama-agama menegaskan aspek ini dalam kemanusiaan kita dan mendorong kita untuk memberi, mencintai dan menolong.
Meskipun demikian, salah jika mengasumsikan bahwa karena agamalah kita punya empati. Yang benar adalah kebalikannya. Agama mengadopsi apa yang sudah ada dalam manusia dan menjadi bagian dari evolusi kita seperti kecerdasan.
Pencarian keabadian
Saya percaya manusia satu-satunya spesies yang sadar akan mortalitasnya. Saya ingat saat-saat dimana saya pertama kalinya sadar bahwa suatu saat akan mati. Pengalaman yang sangat traumatis. Ketika itu umur saya delapan atau sembilan tahun, seorang wanita yang masih kenalan tertabrak truk dan meninggal.
Saya shock menyadari dia telah pergi selamanya. Saya terus bertanya ‘why’. Ibu meyakinkan bahwa dia sudah pergi ketempat yang lebih baik. Saya terima penjelasannya karena itu membuat saya nyaman.
Karena kita manusia sadar akan mortalitas kita, kita berusaha mencari imortalitas (keabadian). Kita ingin mengalahkan kematian.
Bagaimana caranya sangat tergantung pada kedewasaan dan kemampuan berpikir rasional kita. Manusia primitif mengatasi masalah ini dengan mempromosikan kepercayaan bahwa mereka akan mengalahkan kematian dengan kebangkitan atau mendapat tubuh abadi dalam dimensi (spiritual) baru.
Orang-orang rasional sulit menerima ini. Mereka cukup puas dengan meninggalkan karya-karya mereka untuk mencapai keabadian. Sentimen ini dengan cantiknya diungkapkan oleh Orianna Fallachi, yg disaat terakhirnya, ketika kanker secara cepat menggerogotinya, menulis tiga buah buku, memperingati barat akan Islam yang telah membayang-bayangi Eropa. Katanya, “lewat buku ini saya lebih sedikit mati.”
Ini yang mendorong orang yang tidak percaya akhirat. Mereka mencari imortalitas, dengan meninggalkan jejak-jejak mereka. Pelukis, penyair, penulis, filsuf, pencipta, berusaha mati lebih sedikit lewat karya-karya mereka.
Orang tidak perlu jadi pelukis atau penulis utk jadi imortal. Kita bisa mengalahkan kematian kita dan mendapatkan imortalitas lewat perbuatan-perbuatan kita. Perbuatan-perbuatan kita punya efek gelombang (ripple effect) dan gemanya berbunyi hingga bertahun-tahun lamanya, berabad-abad atau bahkan milenia setelah kita mati.
Orang-orang yang tersiksa biasanya menyiksa. Siksaan ini dilalukan dari generasi ke generasi. Tindakan kebaikan juga dilalukan dari generasi kegenerasi. Dengan pengertian ini kita semua adalah imortal. Kita semua hidup dari perbuatan kita.
Jadi, jawaban pertanyaan anda, apa yang terjadi setelah saya mati, adalah: saya tidak tahu. Dugaan saya adalah kita berhenti ada. Kembali ke ketiadaan seperti sebelum saya datang kedunia ini. Tapi, seperti anda dan yang lainnya, saya mencari juga imortalitas.
Tidak seperti anda, saya tidak mencari imortalitas dalam janji-janji palsu dalam agama. Itu bodoh sekali. Saya cari imortalitas lewat perbuatan-perbuatan saya. Saya usahakan untuk meninggalkan jejak saya didunia – bagian terbaik saya.
Saya usahakan untuk meringankan penderitaan orang, membuat bahagia dimana ada kesedihan, untuk menyinari kegelapan, untuk membagi pengetahuan dimana ada kebodohan dan menyebarkan pengertian dimana ada kebingungan.
Saya memilih tujuan saya dan menentukan tujuan hidup saya. Saya ingin menjadi alat kedamaian. Saya tidak mau dibodohi oleh janji-janji palsu akhirat tapi akan berpegangan pada hal nyata dan konkrit. Kebaikan itu nyata dan saya berusaha jadi baik dan melakukan kebaikan.

Add New Reply: