7 Alasan Mengapa Menjadi Ateis


1.       Agama mengklaim mempunyai pengetahuan absolut yang tidak mungkin  salah. Klaim seperti itu jelas berbahaya. Hal ini akan membawa pada pengambilan keputusan yang ngawur tanpa didasari fakta dan menafikan setiap  pemahaman baru. Apa yang dibilang kitab suci meski dikarang ribuan tahun lalu saat manusia masih menaiki kuda dianggap  absolut benar hingga titik-komanya.
2.      Agama menghambat perkembangan akal yang akhirnya akan menghambat perkembangan peradaban. Jika kitab suci bilang A, tidak boleh ada perdebatan. Akal dan inovasi mesti dikalahkan.
3.      Agama menghalangi perkembangan sains. Jika tidak karena agama mungkin pesawat jet sudah ditemukan 1000 tahun lalu. Tapi lihatlah kenyataannya. Galileo yang berpendapat bumi mengelilingi matahari mesti mendapat ancaman hukuman mati karena berbeda pendapat dengan otoritas agama.
4.      Agama tidak sesuai dengan realitas, dengan menunjukkan hal salah sebagai sesuatu yang tepat. Matahari mengelilingi bumi, manusia merupakan keturunan Adam, banjir Nuh, merupakan beberapa contoh dari mitos-mitos agama yang tidak sesuai fakta.
5.      “Konflik terhadap realitas” hanya akan berujung pada rasa frustrasi. Orang beragama mengalami stress sebab bukti riil banyak yang bertentangan dengan kepercayaan mereka.
Salah satu contoh: orang beragama percaya ada kehidupan yang lebih baik setelah mati. Namun kenyataannya, tak ada seorang pun yang bersedia cepat-cepat mati. Mereka masih tetap takut akan kematian. Ini menunjukkan, kepercayaan agama sebenarnya tidak mampu menenangkan jiwa  mereka.
6.      Agama menjadikan manusia terkotak-kotak. Pengkotakan yang umumnya diiringi kebencian kepada yang berbeda.  Pengkotakan ini selalu diwariskan dari generasi ke generasi, seperti virus komputer yang semakin menyebar. Manusia mesti dihargai dan dinilai karena kualitas kemanusiaan mereka, bukan karena agamanya.  Agama justru menyalahi fitrah manusia.
Agama menjadi penghambat kehidupan demokrasi, kebebasan berpendapat, dan perkembangan masyarakat. Agama tak boleh dikritisi jika tak ingin membuat pemeluknya marah. Mereka marah karena sesungguhnya sadar, kepercayaan mereka tak lebih baik dari dongeng peri dan dewa-dewi. Perilaku agresif merupakan manifestasi dari rasa tidak percaya diri itu sendiri.

Add New Reply: