Psikologi Ateis


Dalam sebuah survei di Amerika Serikat pada tahun tujuan puluhan dan delapan puluhan, orang yang mengaku tidak mengikuti agama apapun adalah orang yang lebih muda, kebanyakan pria, berpendidikan dan berpendapatan tinggi, lebih liberal, sering tidak bahagia dan terasingkan dari masyarakat kebanyakan. Berdasarkan 12.043 wawancara pada tahun 2004, sembilan persen dari orang Amerika yang mengaku tidak ikut agama apapun atau secara terang-terangan mengaku ateis atau agnostik cenderung secara politik liberal, Demokrat, mandiri, lebih muda, hidup di Barat, mahasiswa, dan mereka yang tinggal dengan seseorang tanpa pernikahan. Di Australia, kaum sekular memiliki tingkat pendidikan lebih baik daripada kebanyakan penduduk, secara sosial bebas, mandiri, dan kosmopolit. Di Kanada, data sensus dan survei nasional menunjukkan bahwa yang mengaku tidak beragama

Akar Dan Sejarah Ateisme


Kata ateisme (atheism) berakar dari dua kata bahasa Yunani, ”a” yang berarti tanpa atau tidak dan ”theos” yang berarti tuhan. Seorang ateis (atheist), berdasarkan akar katanya, adalah orang tanpa keimanan pada Tuhan; tidak harus meyakini bahwa Tuhan tidak ada. Meski demikian beberapa kamus mendefinisikan ateisme sebagai keyakinan tidak ada tuhan. Untuk menghindari kebingungan, beberapa orang membedakan antara ateisme positif dan ateisme negatif. Yang pertama merujuk pada negasi keberadaan tuhan, sementara yang kedua berarti hidup ’tanpa tuhan’, sesuai dengan akar Yunani kata tersebut. Sebagai lawan dari ateisme biasanya digunakan kata teisme (theism) yang diartikan sebagai keimanan pada Tuhan personal yang aktif penciptaan makhluk dan menurunkan wahyu. Dengan demikian, ateisme adalah kebalikan dari deisme, yang menganggap tuhan tidak lagi berperan dalam

Hasil Riset: Orang Ateis Memiliki IQ Lebih Tinggi


Tahun 2008, seorang ilmuwan bernama Helmuth Nyborg melakukan penelitian untuk mencari hubungan antara IQ dengan tingkat pendapatan seseorang menggunakan data dari National Longitudinal Study of Youth. Data ini juga mencakup pertanyaan  mengenai kepercayaan religius responden.
Hasil penelitian yang dipublikasikan di jurnal Intelligence menunjukkan bahwa ateis rata-rata memiliki IQ 1,95 poin lebih tinggi dari agnostik, 3,82 lebih tinggi dari orang yang berpandangan liberal, dan 5,89 poin lebih tinggi dari orang-orang yang dogmatik (penganut agama).
Melihat hasil ini Nyborg berkomentar, “Saya tidak mengatakan dengan percaya Tuhan akan membuat Anda jadi bodoh. Hipotesis saya, orang dengan kecerdasan rendah akan

Populasi Ateis di Dunia


Berikut adalah statistik penganut agama, ateis/agnostik, dan penganut kepercayaan di dunia.  Data ini merupakan hasil penelitian tahun 2005.

1.       Kristen: 2 milyar
2.      Islam: 1,3 milyar
3.      Hindu: 900 juta
4.      Sekuler/Tak beragama/Agnostik/Ateis: 850 juta
5.      Budha: 360 juta
6.      Agama tradisional Cina: 225 juta
7.      Agama tradisional lain: 150 juta

Ateisme dan Moralitas: Buat Apa Berbuat Baik Jika Tidak Percaya Imbalan Surga?


Artikel ini merupakan ringkasan dari tulisan Ali Sina yang berjudul “Berbuat Baik Jika Tak Ada Hidup Setelah Mati?”  (Sumber: indonesia.faithfreedom.org)
Saya tidak tahu apa yang terjadi pada kita setelah mati nanti. Kemungkinan besar kita akan musnah begitu saja. Apa mungkin ada sebuah realitas untuk kita tinggali setelah kita mati? Tak seorangpun yakin akan itu dan saya bilang kemungkinan jawabannya adalah ‘tidak’.
Banyak sekali hal-hal yang tidak diketahui oleh kita, manusia. Mungkinkah dunia ini jauh lebih kompleks dari yang nampak ? Mungkinkah ada dunia lain dengan dimensi paralel berbeda dengan kita yang kita tidak ketahui?
Kalaupun dunia demikian itu ada, kita tidak punya bukti dan dengan demikian hal itu